Kultivar Teh : Identitas di Balik Secangkir Teh
“To know a tea is to know its plant.”

Setiap kali berkunjung ke negara penghasil teh, saya selalu menyempatkan diri mencari teh lokal yang belum pernah saya cicipi. Sebagai seorang tea sommelier, menemukan teh baru adalah salah satu kesenangan terbesar saat bepergian. Hampir selalu ada sesuatu yang belum pernah saya temukan sebelumnya.
Bulan lalu, saat berada di Himeji, Jepang, saya menemukan sebuah toko teh kecil bernama Harimayachaho, toko teh yang sudah ada sejak 1948. Saya awalnya mencari shincha (teh panen terbaru musim semi di Jepang), tetapi perhatian saya justru tertuju pada dua kemasan bertuliskan Single Cultivar Tea.

Salah satunya dibuat dari kultivar Shizukaori, sementara yang lain dari Koshun. Keduanya merupakan kultivar yang cukup jarang ada dan dikembangkan untuk menghasilkan karakter aroma yang berbeda. Di kemasannya tertulis Shizukaori akan memberikan notes aroma seperti buah plum sedangkan Koshun memberi karakter floral. Narasi ini membuat saya langsung membeli keduanya dan tidak sabar mencobanya.

Bagaimana dengan teh Indonesia?
Apakah kita juga memiliki kultivar yang layak dikenal?
Kita punya loh kultivar yang unik dan hanya ada di Indonesia. Sayangnya, tidak banyak yang mengenalnya.
Ketika berbicara tentang teh Indonesia, kita hampir selalu menyebut mereknya… Untuk specialty tea, biasanya disebutkan asal kebunnya, tapi jarang sekali yang menyebutkan kultivar tehnya. Dalam dunia teh, kultivar dapat diibaratkan seperti varietas anggur dalam dunia wine atau varietas kopi dalam dunia specialty coffee. Kultivar adalah identitas genetik sebuah tanaman yang membentuk karakter dasarnya: aroma, rasa, struktur seduhan, hingga potensinya untuk diolah menjadi teh hijau, oolong, atau teh hitam.
Terroir menjelaskan bagaimana lingkungan membentuk teh. Kultivar menjelaskan karakter tanaman apa yang dibentuk oleh lingkungan tersebut. Keduanya saling melengkapi. Tanpa memahami kultivar, kita baru mengetahui setengah dari cerita sebuah teh.


Salah satu kultivar yang menurut saya paling menarik adalah Dewata 27. Kultivar ini dikembangkan di Jawa Barat melalui persilangan Camellia sinensis var. assamica dan var. sinensis, menghasilkan keseimbangan antara tubuh seduhan yang kaya dan aroma yang elegan. Saat diolah menjadi oolong, Dewata 27 menghadirkan karakter buah tropis perpaduan mangga dan markisa, madu, ubi manis, dan sentuhan amber yang hangat. Yang membuatnya istimewa bukan hanya cita rasanya, tetapi juga kenyataan bahwa kultivar ini merupakan hasil pemuliaan Indonesia. Di tengah begitu banyak kultivar teh yang dikenal dunia, Dewata 27 menunjukkan bahwa Indonesia juga mampu melahirkan identitasnya sendiri.
Bayangkan jika suatu hari nanti, orang datang ke Indonesia bukan hanya untuk mencari teh dari Jawa Barat, tetapi khusus untuk mencicipi Dewata 27 sebagaimana pecinta teh mencari Yabukita, Okumidori atau Koshun di Jepang atau Ruby 18 di Taiwan.
Sudah saatnya kita mulai memperkenalkan teh Indonesia bukan hanya berdasarkan asal daerahnya, tetapi juga melalui kultivarnya. Dengan begitu, kita tidak lagi hanya menjual teh sebagai komoditas, melainkan sebagai produk yang memiliki identitas, sejarah, dan karakter yang unik.
“Identity is not where you grow. It is what you are.”
Ratna Somantri
01 Juli 2026
