Notes On Tea

Ceremonial, atau Sekadar Label? Memahami Matcha Tanpa Terjebak Satu Kata

“Every tea ceremony in Japan uses matcha. None of them call it ceremonial.”

Seorang teman saya yang memiliki café pernah bercerita tentang dua orang customer yang datang hampir bersamaan. Keduanya tertarik memesan matcha latte. Salah satunya bertanya, “Ini ceremonial matcha, ya?

Dijawab : “Bukan.” Karena dia tidak mau memakai label ceremonial untuk matcha di cafénya, menganggap ceremonial hanya gimmick, yang penting adalah matchanya jadi minuman yang enak.

Customer itu langsung batal pesan.
Sementara temannya tetap memesan.

Ketika pesanan matchanya datang, customer yang tadi batal melihat dan ikut mencoba matchanya, dia berkata, “Ini kan ceremonial matcha, Mas. Kok ga bilang ini ceremonial sih?”

Di sisi lain, saya juga sering menemukan produk dengan label: CEREMONIAL MATCHA. Secara visual meyakinkan, seolah menjanjikan kualitas tinggi. Tapi ketika dicoba, rasanya terlalu pahit, tidak ada umami, tidak bisa dinikmati sebagai usucha atau koicha. Matcha seperti ini baru enak diminum ketika dicampur susu dan gula dalam jumlah banyak.

Lalu sebenarnya, apa itu ceremonial matcha?

     

Ada yang mengatakan ini hanya marketing gimmick. Istilah yang dibuat oleh brand di luar Jepang agar produknya terlihat lebih premium. Ada yang sampai menolak penggunaan kata ini sepenuhnya karena menganggap hanya gimmick. Tapi di sisi lain, ada juga konsumen yang hanya mau minum matcha jika ada label “ceremonial.”

Menariknya, dua-duanya ada benarnya.

Di Jepang sendiri, awalnya tidak ada istilah ceremonial matcha. Yang ada adalah pendekatan yang jauh lebih fungsional: matcha dibuat berdasarkan tujuan penggunaannya, dan diberi nama oleh produsen.

Untuk praktik Japanese Tea Ceremony, matcha tidak ditulis sebagai “ceremonial.” Yang digunakan adalah nama yang diberikan oleh matcha master. Banyak brand matcha di Jepang sudah berumur ratusan tahun, dan dalam tradisi tersebut, nama, karakter, dan reputasi jauh lebih penting daripada label ceremonial. Bahkan ada matcha yang dibuat khusus untuk satu sekolah teh tertentu, dan ditandai sebagai “preferred by Urasenke” atau sekolah teh lainnya.

Sementara itu, matcha untuk café, yang digunakan untuk iced matcha atau matcha latte, sejak awal memang tidak dimaksudkan untuk tea ceremony. Matcha jenis ini dibuat agar lebih bold, lebih tahan ketika dipadukan dengan susu, dan diproduksi dalam skala yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan industri minuman yang terus berkembang.

Ada juga matcha untuk keperluan kuliner, yang digunakan dalam pembuatan kue, dessert, hingga produk makanan dan minuman skala industri. Matcha ini dirancang agar stabil dalam proses produksi yang panjang, dengan karakter yang berbeda dari matcha yang diminum langsung.

Baru belakangan ini, beberapa produsen Jepang mulai menggunakan istilah “ceremonial” di kemasan mereka, terutama untuk pasar global. Hal ini dilakukani karena pasar luar Jepang sudah terbiasa dengan istilah tersebut dan dianggap sebagai penanda kualitas.

Masalahnya, tidak ada aturan yang mengatur pemakaian label ceremonial pada matcha. Tidak ada badan yang mendefinisikan apa yang boleh disebut ceremonial matcha. Tidak ada regulasi, tidak ada sertifikasi, tidak ada ambang batas kandungan L-theanine atau klorofil yang harus dipenuhi. Siapapun bisa mencetak kata itu di kemasan.

Akibatnya, rentang kualitas dalam kategori ini menjadi sangat luas. Tidak semua yang disebut ceremonial itu bagus, dan tidak semua yang tidak menggunakan label tersebut berarti kualitasnya rendah. Banyak produsen Jepang yang sudah berusia ratusan tahun bahkan tidak pernah mencantumkan kata “ceremonial,” meskipun matcha mereka digunakan dalam tea ceremony.

Sebaliknya, mereka lebih memilih membedakan berdasarkan karakter dan fungsi: apakah cocok untuk koicha, apakah ideal untuk usucha, atau apakah lebih tepat untuk konsumsi sehari-hari. Ada juga kategori seperti beginner matcha atau everyday matcha, yang biasanya sering direkomendasikan untuk latte.

Jadi masalahnya bukan pada kata “ceremonial.”

Masalahnya adalah ketika kita hanya terpaku pada label ceremonial tapi tidak bisa merasakan matcha dan mengapresiasinya sesuai dengan karakter dan kualitasnya.

Kualitas matcha dibentuk oleh banyak variabel yang tidak muat dalam satu label: varietas daun (okumidori, yabukita, saemidori), daerah asal (Uji, Nishio, Yame, Kagoshima, Shizuoka), durasi dan metode shading sebelum panen, cara penggilingan, hingga kondisi penyimpanan setelah kemasan dibuka.

Dua matcha dengan label yang sama bisa memberikan pengalaman yang sangat berbeda di cangkir. Karena “Matcha is not defined by a word, but by what happens when it touches water and we taste it”

Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Ini ceremonial atau bukan?”

Tapi: “Matcha ini dibuat untuk apa, dan apakah itu sesuai dengan cara saya ingin meminumnya?”

          

Kalau ingin menikmati matcha sebagai usucha, cari matcha yang punya umami kuat, tidak terlalu pahit, dan warna hijaunya cerah secara alami. Label ceremonial bisa jadi petunjuk awal, tapi bukan jaminan.

Kalau ingin matcha untuk latte, kadang yang berlabel “everyday” justru lebih cocok kareana karakternya lebih bold, lebih cocok dicampur dengan susu, dan harganya lebih terjangkau.

Pilihlah matcha sesuai dengan karakter apa yang kita inginkan dan untuk keperluan apa matchanya. Tidak hanya dari label ceremonial. Karena label Ceremonial terlalu luas rentang kualitas dan rasanya.

“Understand the leaf, not just the label.”

 

Ratna Somantri
04 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *