Notes On Tea

Teh Indonesia: Ramai di Mal, Sunyi di Kebun

Beberapa hari yang lalu saya kembali melihat data industri teh Indonesia.

Walaupun saya sudah berkecimpung di dunia teh lebih dari lima belas tahun dari mulai dari aktif di Dewan Teh Indonesia, berbagai asosiasi, sampai akhirnya memilih melepaskan semua jabatan organisasi, tetap saja rasanya sesak melihat angkanya. Angkanya selalu menunjukan cerita yang sama.

Produksi teh Indonesia terus menurun. Harga pucuk daun teh segar yang diterima petani masih rendah. Luas kebun terus berkurang.
Sementara itu…

Minuman teh justru sedang sangat populer.
Di satu mal di Jakarta, kita bisa menemukan lebih dari lima gerai minuman teh. Dari Taiwan, China, Jepang sampai merek lokal. Hampir semuanya ramai.

Menjadi sebuah ironi ya.
Negara yang sedang menikmati booming minuman teh justru tidak berhasil membuat kebun tehnya ikut menikmati pertumbuhan tersebut.

Data yang Sulit Diabaikan

Kalau hanya melihat banyaknya gerai minuman teh, kita bisa mengira industri teh Indonesia sedang baik-baik saja.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Dalam satu dekade terakhir, surplus neraca perdagangan teh Indonesia terus menyusut. Dari sekitar USD 90 juta pada 2015, hingga hanya sekitar USD 2,3 juta pada Agustus 2025. Penurunannya mencapai sekitar 28% per tahun (CAGR) berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dipresentasikan oleh pelaku industri.

Pada saat yang sama, volume maupun nilai impor teh terus meningkat. Artinya, pasar teh di Indonesia memang tumbuh. Tetapi pertumbuhan itu tidak otomatis dinikmati oleh kebun teh Indonesia.

Inilah yang menurut saya perlu kita renungkan bersama.

Saya Tidak Anti Teh Impor

Saya merasa perlu mengatakan ini sejak awal.
Saya bukan anti teh impor.
Saya belajar teh dari guru-guru di Jepang, China sampai Inggris. Sebagai seorang tea sommelier, saya justru percaya bahwa kita harus mengenal teh dari seluruh dunia.

Saya juga tidak pernah mengatakan bahwa teh Indonesia adalah yang terbaik di dunia.
Karena memang tidak demikian.

Ada yang Namanya Terroir, yang menentukan sekali karakter teh yang dihasilkan. Jadi tidak ada satu negara yang punya teh terbaik di dunia untuk semua jenis teh.
Matcha terbaik memang berasal dari Jepang. Empat musim, kultivar, teknik shading, hingga panen musim semi menghasilkan karakter yang tidak mungkin kita tiru persis di negara tropis.

Indonesia bisa membuat matcha. Tapi tidak akan bisa sebagus matcha dari Jepang. Tapi Indonesia punya teh hitam, Jepang tidak bisa punya teh hitam seperti teh Indonesia. Karena alamnya beda, terroirnya beda.

Karena kalau berbicara teh hitam, terutama untuk milk tea, Indonesia justru sangat kompetitif Teh dari daerah tropis memiliki karakter yang lebih bold, body lebih tebal, warna seduhan lebih kuat. Karakter seperti inilah yang justru dibutuhkan untuk milk tea. Susu membutuhkan teh yang tetap terasa. Kalau tehnya terlalu ringan, begitu dicampur susu, karakter tehnya hilang.

Yang membuat saya semakin sedih adalah ketika mengetahui ada teh impor yang masuk ke Indonesia dengan harga sangat murah, dan masuknya pun sangat mudah. Padahal, kalau kita ingin mengekspor teh, persyaratan dari banyak negara tujuan ekspor sangat ketat.

Aneh sekali ya, bagaimana bisa harga teh impor lebih murah daripada teh Indonesia? Padahal kita semua tahu, harga teh Indonesia sendiri sebenarnya sudah murah. Harga pucuk daun teh segar yang diterima petani Indonesia selama bertahun-tahun relatif rendah, sehingga pendapatan petani pun ikut tertekan.

Kalau dibandingkan dengan Sri Lanka, misalnya, harga green leaf yang diterima petani bisa beberapa kali lebih tinggi dibandingkan yang umum diterima petani di Indonesia. Itu menunjukkan bahwa mereka berhasil menciptakan nilai yang lebih besar di sepanjang rantai pasoknya, meskipun biaya produksinya juga lebih tinggi.

Lalu bagaimana mungkin masih ada teh yang bisa masuk ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah lagi? Menurut saya, ini perlu kita pertanyakan. Karena kalau harga teh di negara asalnya sendiri tidak semurah itu, maka teh seperti apa yang sebenarnya masuk ke Indonesia?

Tentu tidak semua teh impor seperti ini. Ada teh-teh yang memang perlu kita impor karena Indonesia tidak dapat memproduksinya, atau belum dapat menghasilkan kualitas yang sama, seperti pu-erh, matcha, atau Darjeeling. Saya tidak pernah mempermasalahkan impor untuk teh-teh seperti itu. Yang perlu kita cermati adalah ketika teh diimpor semata-mata karena harganya sangat murah, sementara kualitasnya sendiri patut dipertanyakan.

Saya sering mendengar bahwa pasar menginginkan teh murah. Saya tidak 100% setuju. Menurut saya, pasar membeli apa yang tersedia dan apa yang mereka pahami. Kalau konsumen tidak pernah diedukasi mengenai kualitas teh, maka harga akan menjadi satu-satunya pertimbangan.

Padahal kita tahu, teh bukan sekadar komoditas.

Ada kebun.
Ada petani.
Ada pabrik.
Ada keluarga yang hidup dari setiap kilogram daun teh.

Saya Tidak Menulis Ini Karena Pasarteh

Saya menulis ini justru karena saya berharap semakin banyak orang menjual teh Indonesia.
Semakin banyak tea blender.
Semakin banyak café.
Semakin banyak hotel.
Semakin banyak pabrik minuman.

Semakin banyak UMKM.

Saya tidak ingin hanya Pasarteh yang memasarkan teh Indonesia. Saya ingin semakin banyak orang bangga menggunakan teh Indonesia. Karena satu perusahaan tidak akan pernah mampu menyerap seluruh produksi kebun teh Indonesia.

Yang kita butuhkan adalah ekosistem.Makin banyak yang memasarkan dan menggunakan teh Indonesia.Makin banyak yang mengedukasi konsumen tentang teh, agar tidak lagi memilih teh karena harga tanpa tau kualitas. Makin banyak yang mengedukasi petani dan kebun teh agar kualitas teh Indonesia semakin baik.

Harapan Saya Sederhana

Saya tidak berharap Indonesia tiba-tiba menjadi produsen matcha terbaik dunia.Tetapi saya berharap hotel-hotel di Indonesia mulai menggunakan teh Indonesia. Saya berharap Earl Grey yang dijual di Indonesia dibuat dari teh hitam Indonesia.
English Breakfast menggunakan teh Indonesia.
Jasmine tea menggunakan teh melati Jawa.
Milk tea menggunakan teh Indonesia.

Karena untuk produk-produk seperti itu, kita sebenarnya sudah memiliki bahan baku yang sangat baik.
Kalau bukan kita yang percaya pada teh Indonesia, lalu siapa lagi?

Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Sebentar lagi kita akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Mari kita ikut berkontribusi, sekecil apa pun peran kita, untuk membuat teh Indonesia benar-benar merdeka. Merdeka karena petaninya sejahtera. Merdeka karena semakin banyak digunakan di negeri sendiri. Dan merdeka karena mampu menjadi tuan rumah di pasar kita sendiri.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81.

Salam Teh Indonesia,

Ratna Somantri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *