Renungan di Hari Teh Sedunia

21 Mei selalu dirayakan sebagai Hari Teh Sedunia.
Tapi di kebun teh di Ciwidey, Jawa Barat, hari itu terasa sama dengan hari-hari lainnya.
Pagi-pagi, sebelum matahari terbit, ibu dan teteh pemetik teh sudah ada di kebun. Tangan-tangan mereka yang terlatih bertahun-tahun memetik pucuk daun teh satu per satu, di kebun yang sudah ada selama tiga generasi.

Daun-daun itu kemudian diolah menjadi teh hijau, teh oolong, teh putih, dan teh hitam. Melewati serangkaian proses panjang, lagi-lagi oleh tangan-tangan yang berpengalaman puluhan tahun. Bukan proses yang singkat dan mudah. Setiap tahap ada ilmunya, ada seninya, ada kesabaran, semua demi menghasilkan secangkir teh yang bisa memberikan pengalaman minum teh yang menyenangkan, lewat kompleksitas aroma dan rasa yang hadir di cangkir kita.
Sejarah mencatat, teh Indonesia pernah menjadi komoditas penting di pasar dunia. Sejak masa kolonial, kebun-kebun teh di Jawa dan Sumatra menghasilkan teh yang diekspor ke Eropa dan menjadi bagian dari budaya minum teh di Belanda dan negara-negara lain. Teh dari tanah kita pernah menempati posisi terhormat di meja-meja internasional.
Namun hari ini, realitanya tidak seindah itu lagi.

Harga teh cenderung stagnan, sementara biaya produksi terus meningkat. Tidak sedikit kebun teh yang beralih fungsi menjadi lahan lain. Di balik secangkir teh yang kita nikmati, ada tantangan nyata yang sedang dihadapi oleh industri dan para petaninya.
Di tempat lain, Hari Teh Sedunia dirayakan dengan berbagai acara: tea tasting, seminar, pameran, hingga diskon produk teh.
Tapi saya selalu bertanya-tanya:
Apakah para petani teh itu merasakan keriaan Hari Teh Sedunia?
Apakah mereka tahu bahwa hari itu ada? Bahwa dunia sedang bicara tentang teh, tentang minuman yang adalah bagian dari hidup mereka?
Saya rasa, cara terbaik kita merayakan Hari Teh Sedunia bukan hanya dengan menghadiri acara atau berbagi konten di media sosial.
Tapi dengan benar-benar memilih teh Indonesia, teh yang dipetik oleh tangan ibu dan teteh di Ciwidey, di Malabar, di Kerinci, di Wonosobo… Menikmati setiap tegukannya, menjadikan secangkir teh Indonesia menjadi bagian dari keseharian kita.
Karena setiap cangkir teh Indonesia yang kita minum adalah cara kita berterima kasih. Kepada tangan-tangan yang bekerja sebelum matahari terbit. Kepada tiga generasi yang menjaga kebun the tetap hidup. Kepada semua yang percaya dan mengusahakan teh Indonesia tetap ada.

Hari Teh Sedunia bukan hanya milik kita yang meminumnya.
Tapi juga milik mereka yang memetiknya, mengolahnya dan melestarikannya.
Salam Teh Indonesia,
Ratna Somantri
