Is Tea Trend Making Tea Less Cultural?
A culture that refuses to evolve will eventually become a museum.
Teh sering digambarkan sebagai tradisi, punya nilai yang diwariskan dari waktu ke waktu, dari cara produksi sampai cara menikmatinya. Seolah ada garis yang jelas tentang apa yang dianggap benar, apa yang dianggap “asli”, dan bagaimana teh seharusnya dinikmati.
Saya tumbuh dalam cara pandang itu.
Bertahun-tahun saya hanya menikmati single origin tea, karena begitulah saya belajar teh di China dan Jepang: membiarkan daun teh berbicara sendiri, tanpa tambahan apa pun. Dan jujur saja, dulu saya sulit menganggap bentuk teh lain sebagai sesuatu yang serius.
Tapi dunia teh tidak berjalan di tempat. Selera berubah, cara menikmati berubah, dan tren teh hari ini tidak hanya terbatas di satu tempat tapi mendunia. Lalu muncul pertanyaan:
Apakah tren teh membuat teh jadi kurang berbudaya?
Dua tren yang paling terlihat sekarang adalah tea blend dan milk tea. Di berbagai negara, bubble tea dan milk tea berkembang pesat, terutama di kalangan konsumen muda. Sementara itu, tea blend makin kuat sebagai pilihan yang memberi ruang kreativitas dan pengalaman rasa baru.
Sebagai orang yang lama hanya minum single origin, tren-tren ini sempat terasa seperti menarik nilai teh ke arah yang lebih “ringan”. Seolah teh yang punya tradisi panjang tiba-tiba berubah menjadi minuman tren.
Tapi sebenarnya kaau kita melihat sejarahnya, tradisi teh sendiri lahir dari evolusi. Teh “tradisional” yang kita minum hari ini adalah hasil dari perubahan dan eksperimen ribuan tahun. Artinya, teh tidak pernah benar-benar statis.
Tea blend yang dibuat dengan baik bukan sekadar campur-campur tanpa dasar. Meracik teh adalah sebuah seni tersendiri, perlu keahlian untuk menciptakan keseimbangan rasa, aroma, dan karakter baru. Begitu juga milk tea. Milk tea yang enak bukan cuma soal manis dan creamy, tapi soal memilih daun teh yang tepat agar rasa teh tetap “keluar” meski bertemu susu sehingga tetap menghadirkan identitas teh di setiap tegukan.
Saya percaya tren tidak selalu berarti teh menjadi kurang berbudaya. Kadang tren hanya menunjukkan satu hal: cara orang masuk ke dunia teh sedang berubah.
Generasi Millennial dan Gen Z cenderung lebih eksploratif. Mereka mungkin masuk lewat milk tea atau blend yang wangi. Tapi dari situ, banyak yang akhirnya penasaran dan mulai mengenal teh lebih jauh. Pintu masuknya berbeda, tapi rasa ingin tahunya tetap sama.
Melihat semua ini, saya jadi merasa tren tidak selalu perlu ditolak hanya karena berbeda dari selera kita. Tradisi tentu punya tempatnya. Tapi ketika tradisi dipahami sebagai sesuatu yang tidak boleh bergerak sama sekali, ia pelan-pelan bisa berubah menjadi museum—indah, tapi semakin jauh dari keseharian banyak orang.
Melihat semua ini, saya jadi merasa tren tidak selalu perlu ditolak hanya karena berbeda dari selera kita. Tradisi tentu punya tempatnya. Tapi ketika tradisi dipahami sebagai sesuatu yang tidak boleh bergerak sama sekali, ia pelan-pelan bisa berubah menjadi museum—indah, tapi semakin jauh dari keseharian banyak orang.
“Tradition survives not by resisting change, but by staying relevant.”
Dan satu hal yang semakin saya pelajari dari teh: selera tidak bisa dipaksakan. Apa yang bermakna bagi kita belum tentu sama bagi orang lain. Justru perbedaan rasa dan cara menikmati itulah yang membuat dunia teh terus hidup.
“Open-minded, not rootless.”
Tetap terbuka, tanpa kehilangan akar.
Ratna Somantri
03 Maret 2026

