In This Economy, Shouldn’t We Start Choosing Indonesian Tea?
Beberapa waktu terakhir, dunia kembali diingatkan betapa cepat situasi global bisa berubah. Konflik di Iran dan Timur Tengah mendorong harga energi naik dan mengguncang pasar dunia.
Indonesia tentu tidak terlepas dari dampaknya. Ketika harga BBM naik dan rupiah melemah terhadap dolar, barang impor otomatis menjadi lebih mahal. Biaya hidup meningkat, sementara daya beli masyarakat ikut tertekan.
Dalam situasi seperti ini, setiap keputusan ekonomi menjadi semakin penting—bahkan keputusan yang terlihat kecil.

Seperti teh yang kita beli setiap hari.
Teh yang kita pilih untuk diminum di rumah, atau teh yang disajikan di café dan restoran.

Setiap produk impor yang kita beli berarti ada uang yang keluar dari ekonomi kita. Sebaliknya, setiap produk lokal yang kita pilih membantu menjaga ekonomi tetap berputar di dalam negeri—mendukung petani, pekerja perkebunan, dan industri yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga di Indonesia.
Karena itu muncul satu pertanyaan sederhana:
Jika Indonesia sudah memproduksi teh sendiri, masihkah kita perlu mengimpor yang sama dari luar negeri?
Indonesia sebenarnya adalah negara penghasil teh. Perkebunan teh kita sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa dan Sumatra.
Ironisnya, jika kita melihat teh yang disajikan di banyak café, restoran, atau gerai minuman teh kekinian, sebagian besar justru berasal dari luar negeri—bukan dari kebun teh di Indonesia.
Padahal untuk beberapa jenis teh, perkebunan teh kita sebenarnya sudah mampu memproduksinya dengan kualitas yang bersaing.

Teh hitam Indonesia, misalnya, memiliki karakter kuat yang sangat cocok untuk breakfast tea, afternoon tea, iced tea, maupun milk tea.
Indonesia juga memiliki oolong, yang mungkin tidak sama dengan oolong dari Taiwan atau China, tetapi memiliki karakter unik tersendiri. Justru kekhasan rasa inilah yang bisa menjadi identitas teh Indonesia. Kita juga memiliki teh hijau, bahkan teh hijau yang diproduksi dengan gaya Jepang di kebun teh di Jawa Barat. Untuk konsumsi sehari-hari maupun kreasi minuman, kualitasnya sudah sangat layak. Memang tidak semua jenis teh bisa kita produksi. Kita belum bisa memproduksi matcha atau pu-erh, sehingga untuk jenis teh tersebut impor memang tidak terhindarkan.

Namun untuk teh yang sudah bisa diproduksi di Indonesia, mengapa kita masih memilih teh impor?
Padahal setiap cangkir teh impor yang kita minum berarti ada ekonomi yang bergerak di luar negeri—bukan di kebun teh kita sendiri. Memilih teh lokal bukan berarti menutup diri dari dunia. Dunia teh justru indah karena keragamannya. Tetapi jika ada teh yang tumbuh di tanah kita sendiri, dengan kualitas yang baik, mungkin sudah saatnya kita memilih teh lokal. Karena ketika kita memilih teh Indonesia, kita bukan hanya memilih sebuah minuman. Kita sedang mendukung petani kita, menjaga perkebunan tetap hidup, dan memberi masa depan bagi industri teh Indonesia. Dan mungkin, di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, nasionalisme tidak selalu harus hadir dalam hal-hal besar.
Kadang ia hadir dalam pilihan kecil yang kita lakukan setiap hari.
Seperti memilih teh yang tumbuh di tanah kita sendiri.
Salam teh Indonesia.
Ratna Somantri
04 Maret 2026
